"Kenapa Pintar Saja Tidak Cukup? Plato Punya Rahasia yang Dilupakan Sekolah Kita."
Pernahkah Anda merasa hidup sudah "mapan" secara materi, tapi hati tetap merasa gelisah atau kosong? Atau mungkin Anda melihat fenomena di media sosial di mana orang-orang mengejar validasi dan kenikmatan sesaat, namun justru kehilangan jati diri?
Persoalan ini ternyata bukan masalah baru. Ribuan tahun lalu, Plato sudah punya "resep" untuk mengatasi kekacauan batin ini melalui konsep yang disebut Paideia. Pembahasan mendalam mengenai hal ini muncul kembali dalam sesi Ngaji Filsafat episode ke-502 yang dibawakan oleh Dr. Fahruddin Faiz di Masjid Jendral Sudirman (MJS), Yogyakarta.
Dalam sesi yang hangat dan penuh pencerahan tersebut, tema utama yang dibahas adalah pemikiran Plato mengenai Pendidikan Jiwa (Paideia). Pak Fahruddin Faiz dengan gaya bicaranya yang santai namun sarat makna, mengajak kita membedah kembali siapa sebenarnya diri kita dan bagaimana seharusnya kita mendidik "sang diri" yang sejati itu.
Mari kita selami lebih dalam intisari dari pengajian tersebut.
Memahami Esensi: Jiwa Adalah Diri Kita yang Sebenarnya
Langkah pertama untuk memahami Paideia adalah menyadari posisi jiwa dalam hierarki keberadaan manusia. Pak Fahruddin menekankan bahwa menurut Plato, jiwa jauh lebih utama daripada jasad. Seringkali kita terjebak menganggap bahwa tubuh adalah diri kita. Kita sibuk merias wajah, menjaga berat badan, atau membeli pakaian mahal untuk membungkus raga ini.
Namun, Plato mengingatkan bahwa tubuh hanyalah sesuatu yang kita "miliki", sedangkan jiwa adalah "siapa kita" yang sebenarnya. Kualitas seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa atletis atau rupawannya fisik mereka, melainkan oleh kondisi jiwanya.
Masalah-masalah besar dalam hidup, baik itu konflik individu maupun krisis sosial, sering kali berakar dari jiwa yang tidak beres atau sakit. Jika jiwa tidak mendapat asupan yang benar, ia akan rapuh, mudah terombang-ambing, dan kehilangan arah. Inilah mengapa pendidikan jiwa menjadi krusial.
Struktur Manusia: Mengenal Tiga Unsur Jiwa (Tripartite Soul)
Agar bisa mendidik jiwa, kita harus tahu dulu apa saja "onderdil" di dalamnya. Dalam Ngaji Filsafat tersebut, dipaparkan bahwa Plato membagi jiwa manusia menjadi tiga bagian besar yang harus selaras. Jika salah satu saja tidak berfungsi dengan baik, maka harmoni hidup akan hancur.
1. Logostikon (Akal)
Ini adalah bagian tertinggi. Logostikon bertugas memimpin dan mengendalikan hidup. Keutamaannya adalah kebijaksanaan atau *hikmah*. Akal bukan sekadar kemampuan berhitung, melainkan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang hakiki dan mana yang fana.
2. Timuides (Emosi/Semangat)
Di sinilah sumber keberanian, harga diri, dan ambisi. Emosi tidak boleh dihilangkan, tapi harus diarahkan. Dalam skema Plato, Timuides harus menjadi pendukung akal. Ia adalah "pasukan" yang melaksanakan perintah dari sang raja (akal).
3. Epitimeticon (Nafsu)
Konsep Keadilan Jiwa: Ketika Harmoni Tercipta
Mungkin selama ini kita menganggap "adil" adalah soal pembagian harta atau hukum formal. Namun bagi Plato, keadilan dimulai dari dalam diri. Adil adalah ketika setiap bagian jiwa menjalankan fungsinya dengan pas.
* Akal memimpin dengan kebijaksanaan.
* Emosi/Semangat mendukung dengan keberanian.
Nafsu tunduk dan terkendali.
Bayangkan jika susunan ini terbalik. Apa yang terjadi jika nafsu yang memimpin? Pak Fahruddin menjelaskan dengan gamblang bahwa dari sinilah lahir perilaku buruk seperti korupsi, kerakusan tanpa henti, atau kebencian yang meledak-ledak. Korupsi terjadi bukan karena kurangnya uang, tapi karena jiwa seseorang dipimpin oleh *Epitimeticon* yang tidak pernah merasa puas, sementara akalnya dipaksa tunduk untuk mencari pembenaran atas keserakahan tersebut.
Pendidikan Bukan Sekadar Informasi: Esensi Paideia
Salah satu poin paling menarik dalam pembahasan ini adalah kritik terhadap sistem pendidikan modern yang seringkali hanya fokus pada transfer data. Dalam kacamata Plato, pendidikan (*Paideia*) bukan sekadar mengisi informasi ke otak atau menimbun gelar.
Pendidikan yang sejati adalah proses "menata jiwa" agar ia mampu mencintai kebenaran dan keadilan. Jadi, jika ada orang yang sekolahnya tinggi tapi jiwanya masih penuh kebencian dan kebohongan, maka menurut definisi Plato, dia belum benar-benar terdidik.
Proses pendidikan jiwa ini memerlukan tiga pilar utama:
1. Pembiasaan sejak dini:
Karakter tidak dibentuk dalam semalam.
2. Lingkungan yang mendukung:
Sulit mendidik jiwa yang bersih di lingkungan yang toxic.
3. Teladan yang baik:
Kita butuh sosok yang sudah "selesai" dengan dirinya untuk menjadi cermin.
Kurikulum Pendidikan Jiwa Versi Plato
Bagaimana cara praktis mendidik jiwa agar selaras? Plato menawarkan kurikulum yang sangat unik dan mencakup berbagai dimensi manusia. Ada empat bidang utama yang dianggap penting:
1. Musik
Bagi Plato, musik bukan sekadar hiburan. Musik bertujuan melatih rasa harmoni dan keteraturan dalam diri. Musik yang baik akan membentuk jiwa yang tenang dan berirama indah. Sebaliknya, musik yang kacau bisa memicu kekacauan batin.
2. Olahraga (Gymnastics)
Jangan salah sangka, filsuf pun peduli fisik. Olahraga diperlukan untuk melatih keberanian, disiplin, dan ketangguhan mental. Tubuh yang sehat adalah wadah yang baik bagi jiwa yang sedang bertumbuh.
3. Matematika
Mengapa matematika? Karena matematika melatih akal untuk berpikir objektif. Matematika memaksa kita untuk melihat angka dan hukum yang pasti, membantu jiwa untuk pelan-pelan melepaskan diri dari sekadar persepsi panca indra yang seringkali menipu.
4. Dialektika (Filsafat)
Inilah puncak dari pendidikan. Dialektika adalah proses mencari hakikat kebenaran melalui diskusi dan perenungan mendalam. Di tahap inilah seseorang belajar melihat "Cahaya" kebenaran yang sesungguhnya.
Menanti Kelahiran Sang "Philosopher King"
Ujung dari pendidikan jiwa yang paripurna adalah lahirnya pemimpin ideal. Plato menyebutnya sebagai *Philosopher King* atau Raja Filsuf. Pak Fahruddin menjelaskan bahwa pemimpin yang layak bukanlah mereka yang paling ambisius mengejar kekuasaan atau yang paling jago berorasi dengan janji manis.
Pemimpin yang layak adalah mereka yang jiwanya paling terdidik dan paling adil. Mereka memimpin karena kewajiban moral, bukan karena haus jabatan. Proses menjadi pemimpin ini sangat panjang, melibatkan olah rasa melalui seni, olah cipta melalui logika, hingga pengabdian nyata di tengah masyarakat selama belasan tahun. Hanya setelah melalui ujian hidup yang panjang, seseorang baru dianggap layak memimpin orang lain.
Kesimpulan: Kebahagiaan Adalah Keberanian Menjadi Benar
Menutup ulasan mengenai Ngaji Filsafat episode ke-502 ini, kita diingatkan kembali bahwa tema utama yang dibahas adalah pemikiran Plato mengenai Pendidikan Jiwa (Paideia). Pesan yang dibawa sangat mendalam: kebahagiaan sejati tidak akan pernah kita temukan dalam tumpukan harta atau tepuk tangan orang lain selama jiwa kita masih berantakan. Kebahagiaan sejati terletak pada keberanian kita untuk memprioritaskan kebenaran di atas kenikmatan sesaat.
Ketika akal kita sudah mampu memimpin, semangat kita sudah mendukung kebaikan, dan nafsu kita sudah terkendali, itulah saat di mana kita benar-benar menjadi manusia merdeka.
Jadi, sudahkah Anda mulai mendidik jiwa Anda hari ini?
Mungkin kita bisa mulai dengan hal sederhana: berhenti sejenak dari hiruk-pikuk media sosial, mendengarkan musik yang menenangkan, atau membaca buku yang menggugah pikiran. Mari kita tata kembali interior jiwa kita agar menjadi tempat yang nyaman bagi kebenaran untuk bersemayam.
Ingin belajar lebih dalam tentang filsafat dengan cara yang menyenangkan?** Anda bisa menyimak rekaman lengkap Ngaji Filsafat bersama Dr. Fahruddin Faiz di kanal YouTube MJS Press atau hadir langsung di Masjid Jendral Sudirman, Yogyakarta setiap hari Rabu malam. Sampai jumpa di perjalanan mencari kebijaksanaan berikutnya!
Post a Comment