Ngaji Santai: Gus Baha Bongkar Salah Paham Soal Ijtihad dan Sunnah Nabi dalam Kitab Sahih Bukhari
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, para pencari ilmu dan pecinta ngaji Gus Baha!
Pernah nggak sih sampean ngerasa, kok zaman sekarang orang beragama bawaannya tegang terus? Dikit-dikit nyalahin orang lain, dikit-dikit bilang bid'ah, dikit-dikit merasa kelompoknya yang paling nyunnah dan paling benar. Kalau ada orang yang ibadahnya beda sedikit saja, langsung dituduh yang macam-macam.
Padahal, kalau kita mau ngaji lebih dalam, Islam itu luas banget, luwes, dan gampang. Agama ini diturunkan untuk merahmati, bukan untuk bikin kita repot atau saling sikut.
Nah, baru-baru ini ada satu momen yang luar biasa bergizi buat rohani dan akal kita. Momen ini terjadi dalam acara khataman kitab Tajridus Shorih (kitab ringkasan dari Sahih Bukhari yang sangat masyhur) di Pondok Pesantren Darul Quran Nurul Abidin. Di majelis yang penuh barokah ini, Gus Baha Bongkar Salah Paham Soal Ijtihad dan Sunnah Nabi dalam Kitab Sahih Bukhari.
Ceramah Gus Baha kali ini benar-benar membuka mata kita tentang bagaimana seharusnya kita bersikap di tengah perbedaan. Beliau mengajak umat untuk tidak kaku dalam memandang perbedaan ijtihad sosial. Mari kita bedah satu per satu poin pentingnya agar hidup kita lebih tenang dan nggak gampang kagetan!
Perbedaan Akidah dan Masalah Sosial: Jangan Dicampuradukkan!
Poin pertama yang paling ditekankan Gus Baha adalah pentingnya membedakan mana wilayah akidah (keyakinan dasar) dan mana wilayah sosial (muamalah). Di sinilah banyak orang modern sering terpeleset karena memukul rata keduanya dengan satu hukum yang kaku.
Gus Baha menjelaskan bahwa urusan akidah itu memang harga mati. Tuhan itu satu, Allah SWT. Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Shalat fardu itu lima waktu. Ini adalah pakem yang tidak bisa diganggu gugat. Nggak bisa sampean ijtihad, "Wah, karena sekarang saya sibuk kerja shift malam, shalat subuhnya saya jamak saja ya." Itu namanya ngawur, bukan ijtihad!
"Masalah sosial tidak boleh disamakan dengan masalah akidah yang kaku, karena dinamika sosial memang sengaja dibiarkan fleksibel oleh Allah dan Rasul-Nya untuk memudahkan umat." — Gus Baha.
Gus Baha sering memberi contoh sederhana soal cara berpakaian. Syariatnya adalah menutup aurat dengan pantas. Tapi apakah harus pakai jubah ala orang Arab? Ya nggak harus. Orang Indonesia pakai sarung, batik, peci nasional, itu sudah menutup aurat dan sangat Islami. Kalau urusan sosial dibikin kaku kayak akidah, repot kita semua.
Islam itu shalihun likulli zaman wal makan (relevan untuk setiap zaman dan tempat). Makanya, ruang ijtihad sosial dibuka selebar-lebarnya agar agama ini tetap hidup di berbagai belahan dunia dengan budaya yang berbeda-beda.
Gus Baha Bongkar Salah Paham Soal Ijtihad dan Sunnah Nabi dalam Kitab Sahih Bukhari
Dalam bedah kitab Tajridus Shorih tersebut, Gus Baha memberikan pencerahan bahwa banyak orang yang baca terjemahan hadis tanpa ngaji ke kiai, akhirnya merasa pemahamannya paling benar. Padahal, para sahabat Nabi saja sering beda pendapat dalam menafsirkan perintah Rasulullah.
Belajar dari Ijtihad Para Sahabat di Bani Quraizhah
Gus Baha menceritakan kisah masyhur setelah Perang Ahzab. Waktu itu Rasulullah bersabda, "Janganlah ada satupun yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah."
Para sahabat pun berangkat. Di tengah jalan, waktu Ashar hampir habis. Matahari sudah mau tenggelam. Nah, di sinilah para sahabat pecah jadi dua kelompok:
- Kelompok Pertama: Berijtihad secara maknawi. Mereka pikir, "Maksud Nabi itu kita disuruh buru-buru. Tapi kalau waktu shalat mau habis, ya kita shalat dulu di jalan biar nggak berdosa." Akhirnya mereka shalat di jalan.
- Kelompok Kedua: Berijtihad secara tekstual. Mereka pikir, "Nabi bilangnya shalat di Bani Quraizhah. Pokoknya saya nggak bakal shalat sampai tiba di sana, meskipun nanti sudah masuk waktu Isya!"
Ketika dua kelompok ini melapor ke Rasulullah, apa reaksi Nabi? Apakah Nabi marah dan membid'ahkan salah satu kelompok? Sama sekali tidak! Nabi tersenyum dan membenarkan keduanya. Dari sini kita belajar bahwa sunnah Nabi itu juga mencakup pemberian ruang bagi kecerdasan akal sahabat dalam menafsirkan perintah.
Kebijaksanaan Rasulullah dalam Praktik Sosial
Seringkali kita salah paham mengartikan "Sunnah Nabi". Banyak yang mengira sunnah itu cuma soal memakai siwak, jenggot, atau cara makan. Tapi, Gus Baha mengingatkan, ada sunnah yang jauh lebih besar: yaitu kebijaksanaan (hikmah) Rasulullah dalam mengelola psikologi umatnya.
Nabi itu luar biasa bijak menghadapi orang awam. Pernah ada orang Arab Badui (orang desa yang polos) masuk ke masjid Nabawi dan tiba-tiba kencing di pojokan masjid! Bayangkan kalau itu terjadi sekarang, pasti sudah viral dan digebukin massa.
Sahabat saat itu juga sudah emosi. Tapi apa kata Nabi? "Biarkan saja dia selesaikan kencingnya. Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah, bukan mempersulit." Nabi ngerti, kalau dilarang mendadak, kencingnya malah berceceran ke mana-mana dan si Badui bisa benci Islam. Inilah "Sunnah Sosial" yang sering kita lupakan: memaklumi ketidaktahuan orang lain.
Fleksibilitas Metode Dakwah: Ngajak, Bukan Mengejek
Berangkat dari pemahaman kitab Sahih Bukhari yang benar, Gus Baha mengajak kita untuk fleksibel dalam metode dakwah. Dakwah itu tujuannya menarik simpati orang agar kenal Tuhan, bukan malah mengusir mereka dengan sikap yang kasar.
Gus Baha mencontohkan cara Wali Songo mengislamkan tanah Jawa. Mereka pakai pendekatan budaya. Ada wayang, ada tembang macapat, ada slametan yang isinya diganti dengan zikir. Itu semua adalah ijtihad sosial yang cerdas. Apakah Wali Songo melanggar syariat? Jelas tidak.
Mereka mengerti bahwa untuk memasukkan nilai akidah (yang kaku), butuh wadah budaya (yang fleksibel). Kalau saja Wali Songo dulu datang langsung mengharamkan semua tradisi lokal, mungkin mayoritas kita hari ini belum memeluk Islam. Jadi, jangan kaku dalam metode dakwah di zaman sekarang!
Pentingnya Rida dan Rasa Syukur: Beragama Itu Harus Ceria
Ini adalah ciri khas Gus Baha: kampanye "Islam yang ceria". Beliau sering mengkritik orang yang beragama tapi auranya gelap dan mukanya ditekuk terus kalau lihat orang bermaksiat, seolah-olah dia sendiri yang punya surga.
Gus Baha mengajarkan bahwa puncak beragama adalah Rida (rela) dan Syukur. Kalau kita sudah rida Allah sebagai Tuhan, maka bawaannya harus tenang. Lihat tetangga belum pakai jilbab, kita doakan. Lihat anak muda masih suka nongkrong, kita sapa dengan baik. Rasa syukur karena kita diberi hidayah harusnya membuat kita lebih welas asih, bukan malah sombong spiritual.
Bisa makan sepiring nasi pakai tempe, lalu minum air putih, dan setelah itu bilang "Alhamdulillah" dengan tulus, itu adalah status kehambaan yang sangat tinggi di mata Allah. Jangan meremehkan syukur dalam urusan kecil sehari-hari.
Kesimpulan: Mari Beragama dengan Ilmu dan Kewarasan
Dari pengajian khataman kitab Tajridus Shorih di PP Darul Quran Nurul Abidin ini, kita belajar banyak hal. Saat Gus Baha Bongkar Salah Paham Soal Ijtihad dan Sunnah Nabi dalam Kitab Sahih Bukhari, kita disadarkan bahwa mengaji hadis itu butuh bimbingan guru dan keluasan hati.
Mari kita bedakan dengan tegas mana akidah yang harus dijaga kuat, dan mana muamalah sosial yang butuh keluwesan. Jangan sampai karena saking semangatnya "nyunnah", kita malah kehilangan akhlak dan kebijaksanaan yang sebenarnya juga merupakan inti dari sunnah itu sendiri.
Berdoalah agar kita selalu diberi hati yang lapang dalam menerima perbedaan. Karena Islam itu indah, mudah, dan penuh rahmat bagi siapa saja yang mau memahaminya dengan benar.
Apakah sampean merasa tulisan ini bermanfaat? Yuk, bantu sebarkan artikel ini ke grup WhatsApp keluarga atau teman biar makin banyak yang paham indahnya Islam yang luwes ala Gus Baha. Jangan lupa bagikan pendapat atau pengalaman sampean soal beda pendapat di kolom komentar ya!
Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Post a Comment