Belajar Cara Nabi Menghadapi Orang 'Cangkem Elek' – Ngaji Kitab Shoheh Muslim
Video ngaji tersebut merekam banyak hal penting: mulai dari keutamaan sifat lemah lembut (al-rifq), cara Nabi menghadapi orang yang perilakunya buruk, sampai soal disiplin dalam menuntut ilmu. Semuanya disampaikan dengan gaya khas Gus Baha yang adem, runtut, dan penuh humor halus.
Mengapa Sifat Lemah Lembut adalah Pintu Kebaikan?
Gus Baha menjelaskan sebuah hadis yang sangat menohok: “Siapa yang dihalangi dari sifat lemah lembut, maka ia dihalangi dari seluruh kebaikan.” (36:52)
Menurut Gus Baha, seseorang yang kehilangan sifat lembut cenderung masuk dalam siklus kerugian:
- Teman menjauh
- Keluarga tidak nyaman
- Masalah kecil membesar
- Hubungan kerja retak
- Kepercayaan orang hilang
Saya pribadi merasa ini relevan sekali di kehidupan digital sekarang. Komentar pedas mudah keluar, opini keras gampang di-posting. Padahal Nabi mengajarkan bahwa kelembutan itu bukan kelemahan—justru kekuatan.
Keunikan Sifat Kenabian yang Tidak Selalu Bisa Ditiru Mentah
Pada menit 02:31, Gus Baha mengingatkan bahwa ada sifat tertentu dari Nabi Muhammad SAW yang termasuk kekhususan kenabian (amtaso bihil anbiya). Artinya, tidak semua tindakan Nabi bisa langsung ditiru tanpa pemahaman mendalam.
Ini penting agar kita tidak terjebak meniru secara tekstual tanpa memahami konteksnya. Saya pribadi menganggap ini pengingat agar belajar agama harus komprehensif, bukan potongan-potongan.
Kisah Nabi dan Tamu yang Berkata Buruk
Salah satu bagian paling menarik adalah cerita tentang tamu yang dikenal buruk lisannya. Nabi sudah mengetahui sifat buruk orang itu dan menyebutkannya sebelum ia datang. Namun begitu tamu itu hadir, Nabi tetap menyambutnya dengan sangat lembut. (01:09)
Aisyah RA pun heran dan bertanya. Nabi menjawab:
“Orang paling buruk di sisi Allah adalah mereka yang dijauhi manusia karena takut keburukan lisannya.” (29:28)
Buat saya, ini bukti bahwa kelembutan bukan reaksi, tapi prinsip. Nabi tidak membalas keburukan dengan kasar, namun tetap jujur pada kenyataan sifat orang itu.
Disiplin dalam Mengaji dan Menuntut Ilmu
Di menit 15:49, Gus Baha bercerita tentang ketegasan gurunya, Mbah Sahal Mahfudz, mengenai izin dalam belajar. Menurut beliau, jika terlalu sering memberi alasan, rutinitas mengaji akan rusak pelan-pelan.
Saya merasa refleksi ini relevan dalam banyak aspek kehidupan: bekerja, belajar, bahkan membangun kebiasaan. Konsistensi adalah bentuk kelembutan kepada diri sendiri—tidak memanjakan kemalasan.
Riwayat Hadis Bil Makna: Kenapa Perbedaan Lafal Itu Wajar?
Gus Baha juga menjelaskan tentang riwayat hadis bil makna, yaitu hadis yang diriwayatkan berdasarkan maknanya, bukan per kata. Karena itu, wajar jika terdapat perbedaan lafal antar-periwayat, selama substansi maknanya tetap sama.
Menurut saya, pemahaman ini membuat kita lebih santai dalam memahami hadis. Fokusnya bukan pada perbedaan teknis, tapi pada hikmah akhlak yang dibawa Nabi—terutama akhlak lemah lembut.
Keutamaan Sifat Lemah Lembut (Al-Rifq) dalam Kehidupan Sehari-Hari
Bagi saya, keutamaan sifat lemah lembut (al-rifq) bisa dipraktikkan dalam hal-hal sederhana seperti:
- Menegur anak tanpa marah
- Mengoreksi orang dengan pilihan kata yang baik
- Tidak merendahkan orang yang baru belajar
- Tidak membalas komentar pedas di media sosial
- Memahami perbedaan karakter setiap orang
- Bersabar menghadapi lisan orang yang kasar
- Lembut kepada diri sendiri ketika sedang lelah atau jatuh mental
Sikap lembut tidak membuat kita kalah. Justru menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaan.
Kesimpulan
Ngaji rutinan Gus Baha pada 2 Januari 2026 bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi juga mengajak kita melihat kembali bagaimana akhlak bisa memengaruhi hidup. Satu pesan yang paling saya ingat:
Kebaikan itu letaknya pada kelembutan.
Semoga kita semua bisa belajar lembut pelan-pelan, memperhalus lisan dan sikap, serta meniru akhlak Nabi sesuai kemampuan.
Kalau kamu ingin dibuatkan versi HTML lain, versi otomatis untuk Blogger, atau ingin ditambahkan elemen gambar dan metadata SEO, tinggal bilang saja.
Post a Comment